Haris Media official website | Members area : Register | Sign in

Sport News



~*0*~
Ketika Anda berhenti mengubah, Anda sudah berakhir (Benjamin Franklin)
.

~*0*~
Perubahan dimulai ketika seseorang melihat langkah berikutnya (Willian Drayton)
.

~*0*~
Dia yang menolak perubahan adalah arsitek pembusukan (Harold Wilson)
.

~*0*~
Perubahan itu sendiri kekal, terus menerus, abadi. (Arthur Schopenhauer)
.

~*0*~
Perjalanan seribu batu bermula dari satu langkah (Lao Tze)
.

~*0*~
Ubah pikiran Anda dan Anda akan mengubah dunia (Norman Vincent Peale)
.

~*0*~
Tidak ada yang salah dengan perubahan, selama berada di arah yang benar (Winston Churchill)
.

~*0*~
Kita berubah, apakah kita suka atau tidak (Ralph Waldo Emerson)
.

~*0*~
Kita harus berubah menjadi seperti yang ingin kita lihat (Mahatma Gandhi)
.

~*0*~
Berteriaklah lantang jika dunia ingin melihatmu, Singkirkan rasa takutmu jika kau inginkan perubahan, Yakinlah kau bisa jika oranglain ingin percayai dirimu, Karena aku adalah sang inovator...! (anonim)
.
RD
.
RD
Maaf Blog Ini Sedang Dalam Proses Pengembangan

Islam dalam Menyikapi Virus Covid-19

Senin, 20 April 2020


Islam dalam Menyikapi Virus Covid-19
Oleh: Aldi Firmansyah

            Virus Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan, China. Penyebab Virus ini bisa masuk kedalam tubuh manusia diduga pertama kali disebabkan oleh orang-orang China yang suka mengkonsumsi segala macam daging baik daging hewan yang layak konsumsi maupun tidak layak konsumsi. Virus ini kemudian menyebar keseluruh dunia termasuk Indonesia, sampai pada saat ini terdapat 1.528 kasus dengan 136 meninggal dan 81 dinyatakan telah sembuh. Banyak kebijakan yang diambil oleh pemerintah guna untuk mengatasi penyebaran virus ini termasuk Lock Down serta Social Distancing.

            Dalam menghadapi Coronavirus Covid-19. Kita semua dapat meniru pada kisah yang pernah terjadi saat zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, dimana pada zaman pemerintahan beliau pernah terjadi wabah yang bermula di daerah Awamas, sebuah kota sebelah barat Yerussalem, Palestina, sehingga dinamakan demikian.

Wabah tersebut menjalar hingga ke Syam (Suriah), bahkan ke Irak. Diperkirakan kejadian wabah ini akhir 17 Hijriah, dan memicu kepanikan massal saat itu. Di dalam sebuah hadis yang di sampaikan Abdurrahman bin Auf mengenai sabda Nabi SAW:

Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian kalian di dalamnya, maka janganlah kalian lari keluar dari negeri itu.’’. HR. Bukhari & Muslim).

Pada akhirnya wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam. Kecerdasan beliau-lah dan dengan ijin Allah Swt yang menyelamatkan Syam. Amr bin Ash berkata:

“Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Maka hendaklah berlindung dari penyakit ini ke bukit-bukit’’. Saat itu seluruh warga mengikuti anjurannya. Amr bin Ash dan para pengungsi terus bertahan di dataran-dataran tinggi hingga sebaran wabah Amawas mereda dan hilang sama sekali.

            Berdasarkan cerita diatas terdapat beberapa cara dalam mengatasi pandemi virus Covid-19:

Pertama, karantina sebagaimana sabda Rasulullah SAW diatas, itulah konsep karantina yang hari ini kita kenal. Mengisolasi daerah yang terkena wabah, adalah sebuah tindakan yang tepat. Kita bisa melihat dari sebuah tabel dibawah ini;       
Keterangan bebasnya dapat diartikan sebagai berikut:
1.      Orang bergerak bebas, dimana orang menularkan corona secara bersamaan.
2.      Diberlakukan lockdown, sehingga ada waktu untuk bisa melakukan penyembuhan secara bertahap.           
3.      Diberlakukan “social distancing”, dengan berdiam diri di rumah dan mengurangi berbagai kegiatan sementara waktu.       
4.      Keempat dilakukan dengan sangat extreme, dengan melakukan jam malam dan sangat ketat, untuk tidak keluar rumah bahkan diberikan jam waktu.


Kedua, bersabar. 
Di dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari diceritakan, suatu kali Aisyah bertanya kepada Nabi SAW tentang wabah penyakit. Rasulullah SAW bersabda,: “Wabah penyakit itu adalah orang-orang yang DIA kehendaki. Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Jika terjadi suatu wabah penyakit, ada orang yang menetap di negerinya, ia bersabar, hanya berharap balasan dari Allah Swt. Ia yakin tidak ada peristiwa yang terjadi kecuali sudah ditetapkan Allah. Maka, ia mendapat balasan seperti mati syahid.”

Ketiga, berbaik sangka dan berikhtiarlah. 
Karena Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya”. (HR. Bukhari).
Dalam kisah Umar bin Khattab berikhtiar menghindarinya, serta Amr bin Ash berikhtiar menghapusnya. Istilah saat ini dan sedang kita lakukan adalah melakukan “social distancing”, tindakan yang bertujuan untuk mencegah orang sakit melakukan kontak dalam jarak dekat dengan orang lain untuk mengurangi peluang penularan virus.

Keempat, banyak berdoalah. 
Perbanyak do’a-do’a keselamatan, salah satu contohnya yang sudah diajarkan Rasulullah Saw untuk di lafadzkan di setiap pagi dan sore berikut ini: “Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu dibumi dan langit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui). Barang siapa yang membaca dzikir tersebut 3x dipagi dan petang. Maka tidak akan ada bahaya yg memudharatkannya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).         



Islam dan Virus Covid-19


Islam dan Virus Covid-19
Oleh: Rohmatun Khasanah

Kita ketahui Virus yang menggentarkan Dunia, fenomena wabah virud corona (Covid-19) yang mjncul diawal tahun 2020, dan semakin lama semakin membuat masyarakat seluruh dunia ketakutan. Bagaimana tidak, virus yang pertama kali muncul di kota Wuhan Hubei China ini telah begitu banyak memakan korban jiwa. Virus yang sampai saat ini belum ditemukan Vaksin atau penangkalnya yang telah merambah hampitr se seluruh Negara-negara besar di dunia. Mulai dari China, korea selatan, Singapura, dan sudah memasuki Negara kita yaiti Indonesia. Bahkan daerah lainnya di Asia, hingga ke Italia, Francis dan lainnya di daratan eropa. Dan beberapa waktu yang lalu presiden Jokowi menggumumkan bahkan bahwa kasusu virus corono telah menjangkit dua waraga indonesi dan sekarang telah menjadi seribu kasus lebih.

Akibat dari virus ini, disamping korban yang berjatuhan dan bahkan sampai meninggal dunia seiring dengan terancamnya dari wabah yang mematikan ini. Disamping itu, tercatat ratusan kota diisolasi, ribuan jalur penerbangan di tutup, bahkan secara khusus Negara Arab Saudi menghentikan sementara kedatangan jamaah umroh guna mengantisipasi tersebarnya wabah ini di tanah suci. Menyikapi hal yang sudah menglobal ini, sebagai seorang muslim hendaknya kita kembali kepada ajaran-ajaran agama kita. Ada beberapa yang harus kita lakukan sebagai insan kamil yang hanya takut kepada Allah.

Sebagai seorang insan senatiasa berlindung kepada Allah. Virus corona adalah makhluk sebagiamana makhluk-makhluk lainya, dan ia tidaklah bergerak kecuali atas perintah dan izi dari Allah ta’ala dan begitu juga kita sebagai manusia. Oleh karenanya kita senantiasa meminta perlindugan kepada Allah dari wabah ini. Sebelum kita berlindung dari kemampuan diri kita sendiri atau kemampuan makhluk lain. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baiknya perlindungan dan sebaik-baiknya penjaga. Sebagaimana Firman Allah:

فالله خير حفضا وهوأرحم الرحمين
“Maka Allah adalah sebaik-baiknya penjaga dan dialah Maha Penyayang di antara para penyayang”

            Dengan membaca doa-doa perlindungan dari Al-Qur’an ataupun dari doa-doa yang bersumber dari Nabi. “dengan nama Allah yang tidak membahasyakan dengan nama-Nyasegala sesuatu yang ada di langit dan bumi, dan ialah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. Dari doa diatas Nabi Saw, biula di amalkan oleh seorang hamba di pagi dan petang hari masing-masing sebanyak tuga kali maka biscaya tidak akan membahayakannya segala sesuatu apapun yang di atas mua buni ini. Tentunya sebagia seorang manusia kita juga harus berikhtiar dengan malakukan usaha-usaha pencegahan agar virus tidak menular kepada diri kita atau kepada orang-orang yang ada disekitar kita.

            Sedikit Islam mengajarkan kita dalam menyikapi wabah Virus covid-19 ini virus yang menjadi ketakutan diseluruh Dunia dan marilah kita berdoa bersama kepada Allah supaya mendapat perlindungan dari Allah SWT. Dan mari kita berdoa kepada Allah untuk keselmatan negri kita bersama dan juga Negara-negara yang ada di luar sana dari wabah yang sedang merajalela saat ini. Keadaan tentang penyelamatan jiwa dari petaka ini, bukan berarti agama tidak guna. Justru agamalah yang mendasari etic dan nilai untuk oengambilan setiap keputusan umat manusia. Demikian ketika seserang muslim berda di situasi tertentu yang mengharuskan dia memilih antara dua opsi apakah harus mempertahankan perintah/larangan agama atau menyelamatkan nyawa. Padahal Allah sudah jelas melarang hambanya untuk mengkonsusmsi makanan yang haran. Untuk itu mari kita berdoa bersama memohon petunjuk, memohon perlindungan kepada Allah SWT agar kita diberikan keselmatan didunia maupun akhitar kelak.

Islam dalam Menyikapi Virus Covid-19


Islam dalam Menyikapi Virus Covid-19
Oleh: Aldi Firmansyah

            Virus Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan, China. Penyebab Virus ini bisa masuk kedalam tubuh manusia diduga pertama kali disebabkan oleh orang-orang China yang suka mengkonsumsi segala macam daging baik daging hewan yang layak konsumsi maupun tidak layak konsumsi. Virus ini kemudian menyebar keseluruh dunia termasuk Indonesia, sampai pada saat ini terdapat 1.528 kasus dengan 136 meninggal dan 81 dinyatakan telah sembuh. Banyak kebijakan yang diambil oleh pemerintah guna untuk mengatasi penyebaran virus ini termasuk Lock Down serta Social Distancing.

            Dalam menghadapi Coronavirus Covid-19. Kita semua dapat meniru pada kisah yang pernah terjadi saat zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, dimana pada zaman pemerintahan beliau pernah terjadi wabah yang bermula di daerah Awamas, sebuah kota sebelah barat Yerussalem, Palestina, sehingga dinamakan demikian.

Wabah tersebut menjalar hingga ke Syam (Suriah), bahkan ke Irak. Diperkirakan kejadian wabah ini akhir 17 Hijriah, dan memicu kepanikan massal saat itu. Di dalam sebuah hadis yang di sampaikan Abdurrahman bin Auf mengenai sabda Nabi SAW:

Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian kalian di dalamnya, maka janganlah kalian lari keluar dari negeri itu.’’. HR. Bukhari & Muslim).

Pada akhirnya wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam. Kecerdasan beliau-lah dan dengan ijin Allah Swt yang menyelamatkan Syam. Amr bin Ash berkata:

“Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Maka hendaklah berlindung dari penyakit ini ke bukit-bukit’’. Saat itu seluruh warga mengikuti anjurannya. Amr bin Ash dan para pengungsi terus bertahan di dataran-dataran tinggi hingga sebaran wabah Amawas mereda dan hilang sama sekali.

            Berdasarkan cerita diatas terdapat beberapa cara dalam mengatasi pandemi virus Covid-19:

Pertama, karantina sebagaimana sabda Rasulullah SAW diatas, itulah konsep karantina yang hari ini kita kenal. Mengisolasi daerah yang terkena wabah, adalah sebuah tindakan yang tepat. Kita bisa melihat dari sebuah tabel dibawah ini;       
Keterangan bebasnya dapat diartikan sebagai berikut:
1.      Orang bergerak bebas, dimana orang menularkan corona secara bersamaan.
2.      Diberlakukan lockdown, sehingga ada waktu untuk bisa melakukan penyembuhan secara bertahap.           
3.      Diberlakukan “social distancing”, dengan berdiam diri di rumah dan mengurangi berbagai kegiatan sementara waktu.       
4.      Keempat dilakukan dengan sangat extreme, dengan melakukan jam malam dan sangat ketat, untuk tidak keluar rumah bahkan diberikan jam waktu.


Kedua, bersabar. 
Di dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari diceritakan, suatu kali Aisyah bertanya kepada Nabi SAW tentang wabah penyakit. Rasulullah SAW bersabda,: “Wabah penyakit itu adalah orang-orang yang DIA kehendaki. Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Jika terjadi suatu wabah penyakit, ada orang yang menetap di negerinya, ia bersabar, hanya berharap balasan dari Allah Swt. Ia yakin tidak ada peristiwa yang terjadi kecuali sudah ditetapkan Allah. Maka, ia mendapat balasan seperti mati syahid.”

Ketiga, berbaik sangka dan berikhtiarlah. 
Karena Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya”. (HR. Bukhari).
Dalam kisah Umar bin Khattab berikhtiar menghindarinya, serta Amr bin Ash berikhtiar menghapusnya. Istilah saat ini dan sedang kita lakukan adalah melakukan “social distancing”, tindakan yang bertujuan untuk mencegah orang sakit melakukan kontak dalam jarak dekat dengan orang lain untuk mengurangi peluang penularan virus.

Keempat, banyak berdoalah. 
Perbanyak do’a-do’a keselamatan, salah satu contohnya yang sudah diajarkan Rasulullah Saw untuk di lafadzkan di setiap pagi dan sore berikut ini: “Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu dibumi dan langit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui). Barang siapa yang membaca dzikir tersebut 3x dipagi dan petang. Maka tidak akan ada bahaya yg memudharatkannya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).         



Islam dalam Menyikapi Virus Covid-19


Islam dalam Menyikapi Virus Covid-19
Oleh: Aldi Firmansyah

            Virus Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan, China. Penyebab Virus ini bisa masuk kedalam tubuh manusia diduga pertama kali disebabkan oleh orang-orang China yang suka mengkonsumsi segala macam daging baik daging hewan yang layak konsumsi maupun tidak layak konsumsi. Virus ini kemudian menyebar keseluruh dunia termasuk Indonesia, sampai pada saat ini terdapat 1.528 kasus dengan 136 meninggal dan 81 dinyatakan telah sembuh. Banyak kebijakan yang diambil oleh pemerintah guna untuk mengatasi penyebaran virus ini termasuk Lock Down serta Social Distancing.

            Dalam menghadapi Coronavirus Covid-19. Kita semua dapat meniru pada kisah yang pernah terjadi saat zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, dimana pada zaman pemerintahan beliau pernah terjadi wabah yang bermula di daerah Awamas, sebuah kota sebelah barat Yerussalem, Palestina, sehingga dinamakan demikian.

Wabah tersebut menjalar hingga ke Syam (Suriah), bahkan ke Irak. Diperkirakan kejadian wabah ini akhir 17 Hijriah, dan memicu kepanikan massal saat itu. Di dalam sebuah hadis yang di sampaikan Abdurrahman bin Auf mengenai sabda Nabi SAW:

Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian kalian di dalamnya, maka janganlah kalian lari keluar dari negeri itu.’’. HR. Bukhari & Muslim).

Pada akhirnya wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam. Kecerdasan beliau-lah dan dengan ijin Allah Swt yang menyelamatkan Syam. Amr bin Ash berkata:

“Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Maka hendaklah berlindung dari penyakit ini ke bukit-bukit’’. Saat itu seluruh warga mengikuti anjurannya. Amr bin Ash dan para pengungsi terus bertahan di dataran-dataran tinggi hingga sebaran wabah Amawas mereda dan hilang sama sekali.

            Berdasarkan cerita diatas terdapat beberapa cara dalam mengatasi pandemi virus Covid-19:

Pertama, karantina sebagaimana sabda Rasulullah SAW diatas, itulah konsep karantina yang hari ini kita kenal. Mengisolasi daerah yang terkena wabah, adalah sebuah tindakan yang tepat. Kita bisa melihat dari sebuah tabel dibawah ini;       
Keterangan bebasnya dapat diartikan sebagai berikut:
1.      Orang bergerak bebas, dimana orang menularkan corona secara bersamaan.
2.      Diberlakukan lockdown, sehingga ada waktu untuk bisa melakukan penyembuhan secara bertahap.           
3.      Diberlakukan “social distancing”, dengan berdiam diri di rumah dan mengurangi berbagai kegiatan sementara waktu.       
4.      Keempat dilakukan dengan sangat extreme, dengan melakukan jam malam dan sangat ketat, untuk tidak keluar rumah bahkan diberikan jam waktu.


Kedua, bersabar. 
Di dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari diceritakan, suatu kali Aisyah bertanya kepada Nabi SAW tentang wabah penyakit. Rasulullah SAW bersabda,: “Wabah penyakit itu adalah orang-orang yang DIA kehendaki. Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Jika terjadi suatu wabah penyakit, ada orang yang menetap di negerinya, ia bersabar, hanya berharap balasan dari Allah Swt. Ia yakin tidak ada peristiwa yang terjadi kecuali sudah ditetapkan Allah. Maka, ia mendapat balasan seperti mati syahid.”

Ketiga, berbaik sangka dan berikhtiarlah. 
Karena Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya”. (HR. Bukhari).
Dalam kisah Umar bin Khattab berikhtiar menghindarinya, serta Amr bin Ash berikhtiar menghapusnya. Istilah saat ini dan sedang kita lakukan adalah melakukan “social distancing”, tindakan yang bertujuan untuk mencegah orang sakit melakukan kontak dalam jarak dekat dengan orang lain untuk mengurangi peluang penularan virus.

Keempat, banyak berdoalah. 
Perbanyak do’a-do’a keselamatan, salah satu contohnya yang sudah diajarkan Rasulullah Saw untuk di lafadzkan di setiap pagi dan sore berikut ini: “Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu dibumi dan langit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui). Barang siapa yang membaca dzikir tersebut 3x dipagi dan petang. Maka tidak akan ada bahaya yg memudharatkannya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).         



Islam dalam Menyikapi Virus Covid-19


Islam dalam Menyikapi Virus Covid-19
Oleh: Aldi Firmansyah

            Virus Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan, China. Penyebab Virus ini bisa masuk kedalam tubuh manusia diduga pertama kali disebabkan oleh orang-orang China yang suka mengkonsumsi segala macam daging baik daging hewan yang layak konsumsi maupun tidak layak konsumsi. Virus ini kemudian menyebar keseluruh dunia termasuk Indonesia, sampai pada saat ini terdapat 1.528 kasus dengan 136 meninggal dan 81 dinyatakan telah sembuh. Banyak kebijakan yang diambil oleh pemerintah guna untuk mengatasi penyebaran virus ini termasuk Lock Down serta Social Distancing.

            Dalam menghadapi Coronavirus Covid-19. Kita semua dapat meniru pada kisah yang pernah terjadi saat zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, dimana pada zaman pemerintahan beliau pernah terjadi wabah yang bermula di daerah Awamas, sebuah kota sebelah barat Yerussalem, Palestina, sehingga dinamakan demikian.

Wabah tersebut menjalar hingga ke Syam (Suriah), bahkan ke Irak. Diperkirakan kejadian wabah ini akhir 17 Hijriah, dan memicu kepanikan massal saat itu. Di dalam sebuah hadis yang di sampaikan Abdurrahman bin Auf mengenai sabda Nabi SAW:

Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian kalian di dalamnya, maka janganlah kalian lari keluar dari negeri itu.’’. HR. Bukhari & Muslim).

Pada akhirnya wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam. Kecerdasan beliau-lah dan dengan ijin Allah Swt yang menyelamatkan Syam. Amr bin Ash berkata:

“Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Maka hendaklah berlindung dari penyakit ini ke bukit-bukit’’. Saat itu seluruh warga mengikuti anjurannya. Amr bin Ash dan para pengungsi terus bertahan di dataran-dataran tinggi hingga sebaran wabah Amawas mereda dan hilang sama sekali.

            Berdasarkan cerita diatas terdapat beberapa cara dalam mengatasi pandemi virus Covid-19:

Pertama, karantina sebagaimana sabda Rasulullah SAW diatas, itulah konsep karantina yang hari ini kita kenal. Mengisolasi daerah yang terkena wabah, adalah sebuah tindakan yang tepat. Kita bisa melihat dari sebuah tabel dibawah ini;       
Keterangan bebasnya dapat diartikan sebagai berikut:
1.      Orang bergerak bebas, dimana orang menularkan corona secara bersamaan.
2.      Diberlakukan lockdown, sehingga ada waktu untuk bisa melakukan penyembuhan secara bertahap.           
3.      Diberlakukan “social distancing”, dengan berdiam diri di rumah dan mengurangi berbagai kegiatan sementara waktu.       
4.      Keempat dilakukan dengan sangat extreme, dengan melakukan jam malam dan sangat ketat, untuk tidak keluar rumah bahkan diberikan jam waktu.


Kedua, bersabar. 
Di dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari diceritakan, suatu kali Aisyah bertanya kepada Nabi SAW tentang wabah penyakit. Rasulullah SAW bersabda,: “Wabah penyakit itu adalah orang-orang yang DIA kehendaki. Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Jika terjadi suatu wabah penyakit, ada orang yang menetap di negerinya, ia bersabar, hanya berharap balasan dari Allah Swt. Ia yakin tidak ada peristiwa yang terjadi kecuali sudah ditetapkan Allah. Maka, ia mendapat balasan seperti mati syahid.”

Ketiga, berbaik sangka dan berikhtiarlah. 
Karena Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya”. (HR. Bukhari).
Dalam kisah Umar bin Khattab berikhtiar menghindarinya, serta Amr bin Ash berikhtiar menghapusnya. Istilah saat ini dan sedang kita lakukan adalah melakukan “social distancing”, tindakan yang bertujuan untuk mencegah orang sakit melakukan kontak dalam jarak dekat dengan orang lain untuk mengurangi peluang penularan virus.

Keempat, banyak berdoalah. 
Perbanyak do’a-do’a keselamatan, salah satu contohnya yang sudah diajarkan Rasulullah Saw untuk di lafadzkan di setiap pagi dan sore berikut ini: “Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu dibumi dan langit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui). Barang siapa yang membaca dzikir tersebut 3x dipagi dan petang. Maka tidak akan ada bahaya yg memudharatkannya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).         



MEMATUHI FATWA ULAMA MERUPAKAN PERAN ANDIL DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENYEBARAN COVID-19


MEMATUHI FATWA ULAMA MERUPAKAN PERAN ANDIL DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENYEBARAN COVID-19
Oleh : Lusi Cahyani

Di berbagai Media Sosial banyak kita jumpai pendapat-pendapat mengenai Covid-19 ini. Ada yang patuh dengan aturan Pemerintah, yaitu dengan melaksanakan ibadah di rumah, bekerja dan belajar dari rumah. Namun adapula yang mengatakan bahwa dirinya tidak takut terhadap virus Corona ini, melainkan hanya takut kepada Allah SWT saja. Sehingga mereka bebas kesana kemari karena merasa dilindungi oleh Allah. Mereka berpikir bahwa terkena virus Corona merupakan takdir. Menurut saya pendapat seperti ini justru memperlihatkan sebuah sikap sombong atau takabur. Dalam hal ini tidaklah pantas menyamakan antara ketakutan kita terhadap Allah dengan ketakutan kita terhadap virus. Takut kepada Allah memanglah bersifat Aqidah yang mana memang wajib hukumnya bagi setiap muslim. Sedangkan takut kepada virus Corona merupakan sebuah naluri setiap insan. Dimana dalam kenyataannya memang virus ini sangat membahayakan dan sudah masuk ke Indonesia, bahkan sudah menimpa saudara-saudara kita. Hal ini sama halnya dengan rasa takut kita ketika bertemu dengan binatang-binatang buas yang dapat mengancam keselamatan diri kita. Sehingga perlu adanya usaha atau ikhtiar dalam mengantisipasi atau menghindari segala kemungkinan buruk yang dapat menimpa kita, misalnya dengan tidak mengganggu atau mendekatinya.

Dalam situasi lain juga ditemukan berbagai pendapat yang kontra terhadap fatwa yang di keluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia yang berbunyi: “Shalat Jum’at sementara akan ditiadakan dan diganti dengan shalat di rumah masing-masing”. Dimana mereka bersikeras mengatakan bahwa “Shalat Jum’at tetap wajib dilaksanakan oleh setiap muslim laki-laki, dan apabila berani meninggalkannya maka akan mendapatkan dosa besar, sholat Jum’at wajib ditegakkan dan dilaksanakan sebagaimana biasanya”. Bukankah Islam memperbolehkan seseorang tidak melaksanakan sholat berjama’ah di masjid apabila terjadi hujan deras sehingga takut akan bahaya yang akan ditimbulkan?.  Apalagi ini sudah berhadapan dengan virus yang sifatnya membahayakan dimana penyebarannya terjadi sangat cepat dan tidak dapat kita lihat dengan kasat mata, sehingga sulit untuk mendeteksi keberadaannya, kecuali dengan alat pendeteksi yang canggih. Gejalanya pun tidak langsung dirasakan saat itu juga, melainkan bertahap. Bahkan ada yang tidak disertai gejala-gejala tertentu, namun ternyata dirinya dinyatakan positif terkena Covid-19.

Memang segala sesuatu sudah ditentukan oleh Allah. Orang-orang yang ditimpa wabah virus ini pun tentunya yang sudah dikehendaki oleh Allah juga. Namun kita tidak tahu siapa yang akan ditimpa, kapan kejadiannya, dan dimana tempatnya. Semua itu hanya Allah SWT saja yang mengetahui. Oleh karena itu, kita sebagai manusia harus berikhtiar dengan menghindari segala sesuatu yang bisa mendekatkan kita terhadap virus tersebut dan melakukan pencegahan. Kita harus melakukan Social Distancing dan Phisycal Distancing. Termasuk dengan tidak melaksanakan sholat berjama’ah di masjid/di tempat kerumunan, tidak keluar rumah dan berkumpul dengan orang banyak dalam jarak berdekatan. Kecuali apabila wilayah tersebut memang dinyatakan masih dalam kondisi aman, maka sholat jama’ah masih bisa dilakukan, dengan tidak mengabaikan peraturan yang sudah ditentukan oleh Pemerintah. Menjaga dan melindungi jiwa mencegah segala sesuatu yang sifatnya membahayakan, dalam hal ini menjadi prinsip utama. Sehingga fatwa yang dikeluarkan oleh para Ulama tersebut merupakan langkah tepat sebagai upaya demi memutus rantai penyebaran wabah Covid-19 dalam skala individu maupun Nasional. Bahkan menurut saya juga sebuah andil dalam membantu pencegahaan penyebaran wabah virus dalam skala Internasional. Mengingat betapa cepatnya virus tersebut menyebar ke berbagai penjuru dunia dalam waktu singkat. Apabila semua orang mematuhi peraturan-peraturan diatas, pasti pandemi Covid-19 ini akan lebih cepat berlalu dan semua akan bisa beraktivitas seperti semula lagi. Namun apabila kita masih saja melanggar aturan tersebut, maka akan semakin lama pula bencana ini berlangsung.

Pengaruh Covid-19 Terhadap Kegiatan Peribadatan


Pengaruh Covid-19 Terhadap Kegiatan Peribadatan
Imroatul Azizah


            Virus Covid-19  merupakan virus yang menular dari hewah ke manusia dan dari manusia kemanusia. Virus ini muncul pertama kali di Wuhan, China. Sejak saat itu, virus covid-19 menyebar begitu cepat lebih dari 100 negara di dunia. Penyebaran covid-19 yang meluas menimbulkan kekhawatiran masyarakat. Hal ini karena virus covid-19 bisa menyebabkan kematian. Virus covi-19 dapat menular antar manusia melalui tetesan cairan pernafasan tubuh, tangan, benda padat dan  udara. Virus covid-19 bisa menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga pernafasan paling parah, seperti Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS). WHO menetapkan  wabah virus corona covid-19 ini sebagai pandemi global. Artinya, virus covid-19 telah menyebar luas di seluruh dunia. Gejala khas covid-19 sendiri seperti demam, batuk, kesulitan bernafas, nyeri otot hingga kelelahan. Pada khasus yang lebih parah,virus ini bisa menyebabkan pneumonia borat, sindrom gangguan pernafasan akut, sepsis dan syok septik.

Dampak covid-19 tidak hanya merenggut ribuan nyawa tetapi juga mengubah tata cara kehidupan  manusia diseluruh dunia mulai dari interaksi sesama maupun proses peribadatan. Beberapa orang mengurung diri dirumah, menghindari tempat keramaian dan menunda perjalanan ketempat lain. Wabah virus covid-19 juga berdampak dalam kegiatan keagamaan umat manusia, ditutupnya tempat peribadatan seperti Masjid, Gereja, Kuil, dan Sinagona dengan mengubah tata cara ibadah demi memperlambat menyebaran penyakit covid-19. Sejumlah organisasi keagamaan di dunia memberikan imbauan kepada seluruh umat manusia untuk mematuhi pemerintah yang ada. Masjidil haram di Mekah biasanya dipenuhi oleh ribuan peziarah, tetapi jumlah itu kini berkurang dratis. Berbagai umat muslim di dunia datang ke Mekah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah yang berlangsung di setiap tahunnya. Namun  larangan mengunjungi Mekah dan Madinah juga diberlakukan. Pihak berwenang Arab Saudi mengatakan larangan kunjungan hanya bersifat sementara sampai waktu yang belum ditentukan. Sementara itu, jika praktik keagamaan dilakukan akan memicu penyebaran virus covid-19.

Bagi umat Hindu, yang saat ini melaksanakan perayaan Holi “festival warna”. Perayaan Holi mrupakan peringatan kemenangan kebaikan atas kejahatan, serta musin semi, cinta dan kehidupan baru. Sebagai bagian dari perayaan ini orang-orang melemparkan bubuk warna diudara dan saling melukis wajah. Perdana mentri India mengatakan tidak akan mengambil perayaan Holi, ia menyarankan agar orang-orang menghindari pertemuan ramai dan besar. Walau demikian, masih banyak umat Hindu yang merayakan Holi selama akhir pekan. Mereka tetap turun ke jalan dan menggunakan masker untuk pencegahan virus covid-19. Beberapa orang memilik tinggah didalam rumah dan bertukan salam melalui telepon daripada merayakan Holi ditempat yang ramai.

Ratusan orang beribadah di Gereja Kristus di Georgetran, Washington DC, sebuah gereja bersejarah di Ibukota Amerika Serikat, diimbau untuk mengrantina diri sendiri. Ini desebabkan seorang pendeta gereja menjadi orang pertama positif terjangkit virus covid-19. Gereja-gereja Katolik di Amerika Serikat dan Eropa juga mengubah cara melaksanakan Misa guna menghentikan penyebaran virus covid-19. Berjabat tangan yang merupakan tanda perdamaian dalam prosesi ibadah, diganti dengan mendoakan orang yang duduk dibelahnya. Di Jepang dimana kuil Budhha dan kuil Shinto adalah kuil yang sangat ramai jemaahnya, namun kini setelah muncul penyebaran virus covid-19, kuil-kuil ctersebut terlihat sepi pengunjung dan jemaah. Hanya ada beberapa orang saja yang hadir, karena mereka takut akan terinfeksi vieeeeerus tersebut.

Reaksi Umat Beragama Terhadap Pandemi Virus Corona


Reaksi Umat Beragama Terhadap Pandemi Virus Corona
Oleh : Herlanto

Langkah antisipasi pengurangan penyebaran Covid 19 diberbagai negara dengan menyarankan kepada setiap warga negara dan masyarakat untuk menjaga jarak dalam rangka menghindari kontak langsung antar sesama termasuk tidak berkumpul ditempat-tempat ibadah atau datang, yerusalem sunyi, tembok ratapan dipagari, paskah tak pasti, ka’bah, masjid, sinagoga, greja, vihara, dan pura ditutup semua umat beragama sementara diharapkan untuk beribadah di rumah masing masing.

Berbagai reaksi di tengah masyarakat bermunculan baik yang mendukung maupun yang menolak terhadap kebijakan tersebut. Saat ini misalnya, di tengah upaya Pemerintah melalui Kementerian dan Lembaga, serta aksi berbagai pihak untuk menanggulangi dampak wabah COVID-19 sesuai standar kesehatan dunia, masih terselip narasi dan aksi atas nama agama yang justru kontra produktif dengan logika dan edukasi yang para ahli medis berikan.

“Saya lebih takut pada Tuhan”, “Kalau sudah tadir-Nya, di mana pun akan mati”, atau “wabah adalah cobaan Tuhan, kita harus lebih dekat dengan-Nya, bukan menjauhi-Nya”. Sepintas narasi itu terdengar benar. Agama dibenturkan dengan logika. Namun, cara pandang ini biasanya menjauhkan pemiliknya dari sikap waspada. Padahal, otoritas kedokteran mengakui bahwa belum ada vaksin yang dapat mencegah COVID-19. Upaya yang bisa kita lakukan semata menghindar agar tidak terinfeksi olehnya. Para dokter sepakat bahwa pola penularan COVID-19 ini adalah melalui kontak antarorang (person-to-person spread), serta melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut ketika seseorang yang terinfeksi virus ini bersin atau batuk. Karenanya, cara efektif untuk mencegah penyebarannya adalah dengan memutus mata rantai penularan COVID-19 dari orang ke orang dari jarak dekat. Kita pun lalu mengenal istilah social distancing.

Social distancing itu menjadi seruan untuk “bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah Sontak seruan itu menuai reaksi sebagian masyarakat beragama. Bertebaranlah narasi bahwa seruan itu sama saja dengan upaya mengikis keimanan, menduakan rasa takut kepada Tuhan. Apalagi, ibadah di rumah berarti mengosongkan rumah ibadah dan menjauhkan diri dari Tuhan.

Akibatnya, masyarakat menjadi pasif menyikapi virus ini. Itulah sebabnya, masih banyak masyarakat yang tidak peka menyikapi pandemi: tidak menggunakan masker dan tidak terlalu peduli pentingnya hidup sehat atau menjaga kebersihan dan sebagainya. Padahal, ini adalah virus yang sangat mematikan bagi manusia. Andai saja masyarakat konservatif ini memahami dengan baik. Masyarakat yang wilayahnya terdapat kasus infeksi virus korona untuk tidak menunaikan atau mengerjakan di tempat- tempat ibadah dan melakukannya di rumah masing-masing, bukan berarti tidak melakukan ibadahnya.

Kesimpulannya, sementara kita berdoa di rumah masing-masing sebagai bagian dari cara untuk melakukan social distancing, lockdown, atau apa pun istilahnya. Biarkanlah pemerintah yang mengambil peran dalam memerangi virus yang sudah menjadi pandemi ini. Semoga kita dijauhakan dari wabah ini dan mudah-mudahan cepat hilang wabah Corona.

Menyikapi adanya Virus Corona dalam Persepektif Islam


Menyikapi adanya Virus Corona dalam Persepektif Islam
Atjmim Nurona

Baru-baru ini diberitkan virus jenis baru dengan nama covid-19 yang lebih populer dengan sebutan Corona, virus ini pertama kali muncul di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Kemudian menyebar dengan kecepatan luar biasa ke seluruh dunia. Virus ini juga telah banyak menimbulkan korban sakit dan meninggal dunia. Peristiwa ini mengakibatkan timbulnya kepanikan diberbagai daerah maupun negara, salah satunya di Jakarta yang ditelah ditetapkan sebagai zona merah virus corona, itu artinya gawat darurat virus corona.

Para tokoh Islam menyikapi adanya virus corona dengan beragam, ada yang sangat behati-hati, ada yang emosional dan menganggap bahwa virus ini adalah bagian dari azab Allah atas dosa-dosa yang diperbuat umatnya. Sementara itu, disisi lain banyak pemberitaan yang mengaitkan dengan Islam, karena agama memiliki peran penting dalam menghadapi setiap persoalan. Ada dua tulisan yang sudah tersebar yang layak dirujuk. Pertama, tanpa nama penulisnya, yang mengingatkan bagaimana saat Khalifah ke-2 Umar bin Khattab menyikapi wabah Tha'unAmwas (penyakit menular) yang melanda wilayah Syam waktu itu.Umar dan rombongan yang mendengar berita adanya wabah tersebut sebelum memasuki wilayah itu, menghadapi perdebatan para sahabat: apakah akan meneruskan perjalanan atau kembali ke Madinah. Sebagai pimpinan Umar memutuskan tidak meneruskan perjalanan dengan alasan: kita memilih takdir yang satu dan meninggalkan takdir yang lain. Artinya ikhtiar manusia menjadi penting dalam masalah ini.Pada bagian lain, dengan merujuk Hadits Nabi yang diriwiyatkan oleh HR Bukhari yang menyatakan: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi, jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat ini. Hal ini sejalan dengan metode medis modern yang dikenal dengan istilah "karantina".Kedua, tulisan Imam Shamsi Ali yang mengingatkan pentingnya mengambil pelajaran atas berbagai peristiwa yang terjadi, sabar menghadapinya, lalu mencari hikmah di balik semua itu, sembari tidak berhenti untuk terus berdoa kepada Allah SWT.  Dengan menggunakan istilah yang dipakai oleh Ketua Muhammadiyah Haedar Nasir, menghadapi masalah virus Corona kali ini sebagaimana kita menghadapi masalah pada umumnya, perlu menggunakan pendekatan rasional dan spiritual dengan berikhtiar dan berdoa.

Dari dua berita di atas disimpulkan bahwa menyikapi virus corona ini dengan ikhtiar, mendekatkan diri kepada Allah (tawakal), kenapa harus iktiar dan tawakal? Karena pemilik dan pencipta viruscorona adalah Allah SWT, Allah jugalah yang menghendaki virus itu akn diberi kepada siaapa, maka dari itu kita harus beriktiardan bertawakal meminta perlindungan dan meminta agar dijauhkan dari virus itu. Selain itu berhati-hati juga penting, karena sudah dijelaskan pada hadis di atas. Hadis di atas memberikan petunjuk untuk berhati-hati. Jika mendengar ada wabah di daerah lain maka jangan memasuki daerah tersebut, itu adalah salah satu bentuk himbauan untuk berhati-hati, sedangkan jika wabah itu berada di daerahmu, maka jangan tinggalkan daerahmuitu adalah bentuk ikhtiar, ikhtiar bisa dilakukan dengan karantina.

Selain dengan berita di atas, Islam juga menganjurkan untuk tidak panik dan gegabah menghadapi adanya wabah virus corona tersebut, karena kepanikan hanya akan menimbulkan banyak akibat yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain, sehingga dari kepanikan itu akan memancing seseorang untuk melakukan tindakan tanpa pemikiran yang panjang atau gegabah. Contoh kepanikan itu bisa dilihat dari semakin sulitnya memperoleh masker, seharusnya orang yang membutuhkan masker mendapatkan masker dan orang yang tidak membutuhkan harusnya tidak membelinya, namun yang terjadi malah sebaliknya orang yang benar- benar membutuhkan malahtidak mendapatkannya dan orang yang tidak membutuhkan lmendapatkannya. Hal tersebut adalah contoh bentuk kepanikan seseorang yang melakukan tindakan gegabah tanpa pemikiran yang panjang.

Referensi
Muhammad Najib, “Bagaimana Seharusnya Umat Islam Memandang Virus           Corona yang Sedang Melanda Dunia”,         https://www.rmol.id/read/2020/03/15/425499/Bagaimana-Seharusnya-        Umat-Islam-Memandang-Virus-Corona-Yang-Melanda-Dunia-