Agama dan Covid 19
Oleh: Inayah
+inayahiin306@gmail.com
Belakangan ini
semua orang sibuk membicarakan virus corona (covid-19). Banyak sudut pandang
yang digunakan. Satu hal yang menarik dan menjadi perdebatan adlah terkait
relasi agam dan penyakit. Dua hal yang sering dipertentangkan oleh sebagian
pihak. Agama dianggap sebagai wilayah yang irrasional dan transenden, sedangkan
penyakit dipandang sebagai bagian dari problem kehidupan factual yang bersifat
saintifik-empirik. Sebagaimana yang sedang marak terjadi di kalangan masyarakat
saat ini adalah bahayanya virus corona (covid-19). Semua masyarakat sangat
panik disertai kewaspadaan yang sangat mendalam. Berbagai macam-macam agama
banyak yang menyudahi kegiatan-kegiatan keagamaan mereka ada juga sebagian
agama yang menutup tempat peribadatan mereka, karena takut akan bahaya virus
corona. Upaya yang mereka lakukan adalah untuk kebaikan bersama tentunya.
Dari masalah di
atas banyak pertanyaan yang muncul, seperti tepatkah antara keduanya
dipertentangkan? Bisakan agama dijadikan paduan untuk umatnya agar terhindar dari
suatu penyakit? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul tentang
apa kaitanya penyakit dengan agama. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk
beragama. Ada yang menyebutkan sebagai makhluk rohani. Berbeda dengan binatang
dan juga tumbuhan. Karena sejak lahir sejatinya manusia sudab bertuhan,
mengingat dalam diri manusia terdapat unsur-unsur ketuhanan (ruh). Pada hal
yang sama pula manusia juga terdiri dari unsur jasmani. Maka sangat wajar jika
manusia membutuhkan sandang, pangan dan papan untuk menjaga kelangsungan
hidupnya. Jika salah satu unsur di atas tidak terpenuhi, maka manusia akan
mengalami kesulitan. Artinya manusia bisa terkena penyakit. Hanya saja menurut
pakar kesehatan unsur tertinggi dari munculnya penyakit adalah dari faktor pangan,
taak terkecuali Covid-19 yang sedang terjadi saat ini.
Berdasarkan
pemaparan di atas berarti penyakit yang menimpa manusia satu rangkaian dengan
penciptaan manusia itu sendiri. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang
bebas dari penyakit. Jangankan manusai biasa, Nabi/Rasul sebagai makhluk
pilihan Tuhan sekalipun bisa jatuh sakit. Maka dari itu, jika relasi agam dan
penyakit ini dipahami dengan benar, seharusnya tidak perlur mempertentangkan
keduanya. Manusia yang tersusun dari unsur rohani dan jasmani, sudah dapat
dipastikan tidak akan kebal dari penyakit selama hidupnya. Sebagaimana manusia
beragama, seharusnya menghadapi suatu penyakit secara menyeluruh. Penyakit
apaun jenisnya, khususnya penyakit yang berbahaya dan menular seperti virus
corona tidak bisa didekati secara parsial. Tidak cukup hanya menggunakan
perawatan medis, tetapi juga harus dibarengi dengan pendekatan rohani
(spiritual). Dan tidak seharusnya kalangan medis menyebutkan bahwa virus corona
yang saat ini sedang marak-maraknya di kalangan masyarakat itu terjadi akibat
gaya hidup manusia. Demikian sebaliknya, piihak dari kaum agamawan bahwa
penyakit ini merupakan kutukan tuhan bagi para pendosa. Dua perspektif tersebut
harus ditempatkan secara tepat.
Suatu penyakit
sebesar apapun bahayanya, harus dilihat dari dua konteks kehidupan. Manusia
yang hidup di alam nyata, alam fisik dan wujud, harus diterima dan sangat
mungkin menjadi sebab timbulnya suatu penyakit. Namun ada unsur lain yang juga
sangat mungkin menjadi sebab wabah penyakit itu. Bahkan dalam praktik-prakti
beragama, para ilmuan khususnya Islam, mengajarkan dan mempraktikkan terapi
penyakit fisik dan mental berdasarkan nilai-nilai agama. Di sinilah pentingnya
kita bersikap waspadan dan juga tenag jangan terlalu gegabah dan juga jangan
terlalu menyepelekan dalam menghadapi penyakit. Apalagi yang mewabah seperti
virus corona. Virus yang sudah selayaknya ditanggulangi secara medis, seperti
perawatan intensif dan obat-obatan tertentu. Juga bisa dicegah dengan gaya
hidup sehat, mengonsumsi makanan sehat dan olah raga teratur serta harus lebih
banyak mendekatkan diri kepada Tuhan.













0 comments:
Posting Komentar